Waman yarju loqoo`a ribbihi fal ya`mal amalan soolihan (Barang siapa yang ingin bertemu dengan Tuhannya, hendaklah ia berbuat baik).
Pada tulisan sebelumnya saya pernah menggambarkan perihal kebahagiaan
sejati seperti kisah seorang ahli ibadah (abid) yang diwafatkan oleh
Allah. Kemudian melaikat Jibril mengajak sang abid itu ke pelataran
syurga. Abid pingsan. Begitu sadar, Jibril bertanya, "mengapa engkau
pingsan?"
"Wahai Jibril, aku merasakan kenikmatan luar biasa disini.
Seandainya kau berikan seluruh isi dunia padaku sebagai pengganti tempat
ini, aku tidak mau."
"Ah maasaa?"
"Suwer deh Bril. Aku tidak akan pindah dari sini meski segala kenikmatan kau tawarkan.``
"Mau ndak aku tunjukin tempat yang lebih nikmat dan mempesona dari ini?"
"Inyong ora gelem. Karena mustahil ada keadaan yang lebih nikmat dari pada ini."
Kemudian Jibril membawa abid tersebut ke sebuah keadaan
yang sejuta kali lebih hebat dari sebelumnya. Karuan saja abid pingsan
beberapa kali. Namun setelah sekian lama Jibril menunggu ia siuman,
Jibril bertanya kepadanya.
"Kamu kenapa sih, kok pingsan melulu, lemah jantung ya?"
"Sembarangan!Bril, sungguh keadaan ini tak akan
terbayangkan oleh satupun manusia. Ini very-very spektakulerrr...!!"
ujar abid sambil mengacungkan dua jempolnya. "Andaikan kau gabungkan
dua kenikmatan menjadi satu yakni seluruh isi dunia dan pelataran syurga
tadi untuk menggantikan keadaan ini, maka aku tidak rela, wahai
Jibril."
"Lebaaay...!! Aku pindahkan kamu ke tempat lain...!
"Jangan Briiill...! inyong orang sudddi.. Karena mustahil
ada tempat yang setara dengan tempat ini, apalagi yang lebih baik dari
ini. Emangnya kalo boleh tahu, tempat dan keadaan seperti ini, namanya
apa Bril?"
"Ini syurga cuy! Baru tau ya? Makanya gaul dooong...! Udah
ah, kebanyakan nego nih, kaya calo bae sih. Hayo sekarang ikut saya...!
"Ogah Bril, inyong ura gelem pindah sing kene...!" ratap
abid tidak mau saat tangganya diseret Jibril menuju tempat lain.
Sampailah Jibril dan abid di arsy. Singgasana Allah.
Pesona dan keindahan berjuta-juta kali lipat ketimbang tempat semula.
Tiba-tiba Allah ta`ala datang. Dan diasaat sang abid menatap wajah-Nya,
abid pingsan tingkat tinggi. Bahkan sudah mencapai stadium koma. La yahya wala yamut. Begitu
sadar, abid langsung tersungkur untuk sujud dan bergetar mengucap
subhanallah, masya Allah. Kemudian saat itu Allah mengatakankepada abid.
"ya, inilah Aku yang selama ini kamu sembah.''
Sungguh, kenikmatan atau keindahan sejati, atau malah
syurga yang sebenarnya adalah saat seorang hamba dan ketika Allah sudah
menjadi tujuan dalam hidupnya, maka tiadalah berarti apapun yang ada di
bumi ini, bahkan syurga pun tiada menggiurkan. Dahsyatnya, bahwa cara
untuk bisa bertemu dengan-Nya adalah amalan soolehan (perbuatan yang baik). Bukan amalan sohehan (perbuatan yang benar). Sebab kebenaran bersifat `relatif` sedang kebaikan adalah kesepakatan.
Shalat adalah mutlaq merupakan satu-satunya cara agar
manusia bisa berbuat baik secara universal. `Baik` untuk diri sendiri,
terlebih lebih untuk orang lain . Kebaikan yang muncul dari akibat
shalat adalah bukan hanya perilaku bijak yang dilakukan untuk orang
lain, melain kan juga kecerdasan pribadi secara menyeluruh, baik
kecerdasan spiritual, emosional dan intelegensial.
Innassolaata tanha anil fahsya`i wal mungkar.
Sesungguhnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jadi,
shalat selain memunculkan kecerdasan menyeluruh dalam diri seseorang, ia
pun menjauhkan pelakunya dari perbuatan-perbuatan yang mema-lukan.
Perbuatan busuk bertopeng khusuk. Ia juga menciptakan pribadi yang
sejati. Sosok yang sebenarnya. Bukan srigala berbulu domba. Sebab mudah
bagi manusia ngebagus-bagusi penampilan-nya. Bahkan manusia sanggup
untuk tega mengelabuhi manusia lain denga berpura-pura menjadi sosok
figuritas agama, padahal berhati iblis. Kemana-mana hatinya menenteng
kompor untuk memanas-manasi orang. Mengajak orang lain untuk membenci
apa yang tidak disukainya. Senang melihat orang susah dan susah melihat
orang senang.
"Ah, buktinya tidak sedikit juga kok orang yang shalat tapi bermulut busuk!"
Memang dalam hal ini Allah sendiri telah mengingatkan buat orang yang seperti itu. Fawaylul lil mushollin alladzhiynahum an sholaatihim saahuun. Mari perhatikan kalimat di atas. Yang digunakan adalah kalimat `an sholatihim` yang
artinya `tentang shalatnya` bukan `fiy sholatihim` yang berarti di
dalam shalatnya. Jadi, yang celaka itu bukan orang yang tidak khusu`
dalam shalat, melainkan orang yang shalat namun perbuatannya seperti
orang yang tidak shalat.
Oleh karenanya, perlu disadari benar oleh setiap orang yang
mendapat perintah shalat itu sendiri. Bahwa shalat berasal dari kata
shilah yang berarti hubungan. Sedangkan hubungan memiliki dua arah
esensial yakni hubungan kepada Allah dan hubungan kepada sesama makhluk.
Ya, seluruh cipataan Allah secara menyeluruh. Inilah yang dimaksud rahmatan lil alamin. kasih sayang untuk seluruh alam.
Perlu juga dicermati bahwa inti dari maksud diutusnya
kanjeng Rasul, semata-mata hanya untuk membenahi akhlaq. baru kemudian
cara dan strategi pembenahan akhlaq itu diberikan dalam bentuk shalat,
puasa dan lain-lain. Bahkan Allah pun langsung ikut campur dalam misi
akhlaq ini dengan memberikan Al-Qur`an buat hamba-Nya. Al Qur`an yang
menjadi pedoman dan petunjuk hidup manusia tentang tata cara hidup
berakhlaqul karimah merupakan solusi yang tidak bisa di tawar untuk
mendatangkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Maka,
siapapun yang ingin bahagia, bergurulah kepada Rasul lewat sunnah nya
dan kepada Allah lewat Al Qur`an. Niscaya hidupnya akan beres.
Lihatlah Rasulullah yang meletakkan Al-Qur`an di dalam
hatinya sehingga menjadi akhlaq dalm hidupnya. Lalu dimanakah kita
meletakkan Al-Qur`an?
Jadi kesimpulan dari ulsan yang sangat singkat ini adalah
seluruh isi dari ajaran islam yang tidak lain untuk terciptanya aklhaq
yang mulia. Serta munculnya kecerdasan EQ, IQ dan SQ. Sehingga
terbentuklah keharmonisan antara seluruh ciptaan Allah.
"Tapi kok, ada juga orang yang sanggup hafalkan Al-Qur`an, sementara kepribadiannya mirip orang kesetanan?"
Barangkali Al-Qur`an baginya hanya hiasan suara yang dilantunkan lewat
bibirnya, bukan petunjuk yang kemudian dijadikan akhlaq. Memang
terdapat beberapa alasan ketika seseorang menghafalkan Al-Qur`an. Ada
yang karena sebegitu cintanya terhadap Al-Qur`an sehingga ia konsisten
untuk juga mengamalkannya. Namun ada juga yang karena menjadi
persyaratan akademis kemudian terpaksa ia harus menghafal, bahkan
malahan ada yang tadinya memang niat ingin manghafal Al-Qur`an namun
ketika dirasa mulai membawa keuntungan secara materi, akhirnya ya
sekalian. Jual ayat biar sering dapat panggilan ceramah. Nanti kalau
dirasa hafalan Al-Qur`an nya mulai melemah sehingga tidak lagi mampu
mnjadi bumbu dalam ceramah sambil atraksi sulap. Lumayan jadi punya dua
gelar kan, ya ustadz juga, ya tukang sulap juga.
"Memang ada yang begitu?"
Manakutau...!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar